TERJEMAH
DAN PEMBAHASAN KITAB QOWAIDUL I’LAL LENGKAP
Bismillahirrohmanirrohim
MACAM
– MACAM BINA’
Macam
– macam bina’ ada 7 yang terkumpul dalam nadzom :
صَحِيحٌ اَوْ مِثَالٌ اَوْ مُضَاعَفُ # لَفِيْفٌ
نَاقِصٌ مَهْمُوْزٌ اَجْوَفُ
1. Bina’ sohih
2. Bina’ Mitsal
3. Bina’ Mudho’af
4. Bina’ Lafif
5. Bina’ Naqis
6. Bina’ Mahmuz
7. Bina’ Ajwaf
BINA’
SOHIH
·
Bina’ Shohih ada 2
Bina’
sohih ialah kalimat yang Fa’ fiil, Ain fiin dan Lam fiil nya bukan berupa
hamzah (ء) bukan huruf ilat (ا ي و) serta Ain fiil dan Lam fiil nya tidak sejenis (ketika Tsulasi)
atau fa’ Fiil nya dan Lam Fiil yang pertama tidak sejenis (ketika Ruba’i).
1. Bina’ Shohih Sulatsi
contoh نَصَرَ
2. Bina’ Shohih Ruba’I
contohدَخْرَج
BINA’
MITSAL
·
Bina’ Mitsal ada 2
Bina’
Mitsal ialah Kalimat yang Fa’ fiil nya berupa huruf ilat
·
Mitsal wawi
·
Mitsal wawi yaitu kalimat yang Fa’ Fiil nya berupa huruf ilat
Wawu seperti contoh: وَعَدَ
·
Mistal Ya’i
·
Mitsal Ya’I yaitu kalimat yang Fa’ Fiil nya berupa huruf ilat
Ya’ seperti contoh : يَسَرَ
BINA’
MUDO’AF
·
Bina’ Mudo’af ada 2
Bina’
Mudo’af ialah Kalimat yang Ain fiil dan Lam fiil nya sejenis (Mudo’af Tsulasi)
atau Fa’ Fiil nya dan Lam Fiil yang pertama sejenis (Mudo’af Ruba’i).
·
Mudo’af Tsulasi contoh :مَدَّ
Asalnya مَدَدَ
·
Mudo’af Ruba’I Contoh :طَأْطَأَ
Bina’ Lafif
Bina’
Lafif ialah kalimat yang terdiri dari dua huruf ilat
Bina’
Lafif ada 2
Lafif Mafruq
Lafif
Mafruq yaitu kalimat yang Fa’ fiil dan Lam fiil nya berupa huruf ilat seperti
contoh :وَقَى
Lafif Maqrun
Lafif
Maqrun yaitu kalimat yang Ain fiil dan Lam fiil nya berupa huruf ilat seperti
contoh :شَوَى
BINA’
NAQIS
Bina’
naqis ialah kalimat yang Lam fiil nya terdiri dari huruf ilat
Bina’ naqis ada 2
·
Naqis wawi
Naqis
wawi yaitu kalimat yang lam fiil nya berupa huruf ilat waw seperti contoh :غَزَا Asalnya غَزَوَ
·
Naqis Ya’i
Naqis
Ya’i yaitu kalimat yang lam fiil nya berupa huruf ilat Ya’ seperti contoh :سَرَا Asalnya سَرَيَ
BINA’
MAHMUZ
Bina’
Mahmuz ialah kalimat yang salah satu dari fa’ fiil, Ain fiil dan Lam fiil nya
berupa hamzah (ء).
Bina’ Mahmuz ada 3
·
Mahmuz Fa’
Mahmuz
fa’ ialah ialah Kalimat yang Fa’ fiil nya berupa hamzah seperti contoh :أَدَمَ
·
Mahmuz Ain
Mahmuz
Ain ialah ialah Kalimat yang Ain fiil nya berupa hamzah seperti contoh :سَألَ
·
Mahmuz Lam
Mahmuz
Lam ialah ialah Kalimat yang Lam fiil nya berupa hamzah seperti contoh :قَرَأ
BINA’
AJWAF
Bina’
Ajwaf ialah kalimat yang Ain fiil nya berupa huruf ilat.
Bina’ Ajwaf ada 2
Ajwaf Wawi
Ajwaf
wawi ialah kalimat yang Ain fiil nya berupa huruf ilat wawu seperti contoh :صَانَ Asalnya صَوَنَ
Ajwaf Ya’iKeterangan :
Ajwaf
Ya’I ialah kalimat yang Ain fiil nya berupa huruf ilat Ya’ seperti contoh :سَارَ Asalnya سَيَرَ
Yang
di maksud Fa’ fii, Ain Fiil dan Lam fiil ialah sebagai berikut
|
Berupa Sulasi (Tiga Huruf)
|
Berupa Ruba’I (Empat Huruf)
|
|
فعل
Lam
Fiil Ain
Fiil Fa’ Fiil
|
فعلل
Lam Fiil 2 Lam
Fiil 1 Ain
Fiil Fa’ Fiil
|
Huruf
Ilat ada 3 yaitu : Alif ( ا ), Ya’( ي ), Waw( و
)
Untuk
bina’ Naqis dan Ajwaf untuk mengetahui asal hurufnya kita cari bentuk isim
masdar nya seperti contoh سَارَ Masdar nya سَيَرَا maka Alif pada lafad سَارَ itu asalnya adalah berupa huruf Ya’.
|
جنتو
|
حروف
|
ف/ع/ل
|
البناء
|
الفعل
|
النمرة
|
النمرة
|
|
|
نَصَرَ
|
ف ع ل
|
صحيح
|
اثلاثي
|
1
|
1
|
||
|
مَدَّ / مَدَدَ
|
سجنيس
|
ع + ل
|
مضاعف
|
2
|
2
|
||
|
وَعَدَ
|
و
|
ف
|
واو
|
مثال
|
3
|
3
|
|
|
يَسَرَ
|
ي
|
يائى
|
4
|
||||
|
صَانَ
|
و
|
ع
|
واو
|
اجوف
|
5
|
4
|
|
|
سَارَ
|
ي
|
يائى
|
6
|
||||
|
غَزَا
|
و
|
ل
|
واو
|
ناقص
|
7
|
5
|
|
|
سَرَى
|
ي
|
يائى
|
8
|
||||
|
وَقَى
|
حرف العلة
|
ف + ل
|
مفروق
|
لفيف
|
9
|
6
|
|
|
شَوَى
|
ع + ل
|
مقرون
|
10
|
||||
|
أَمَلَ
|
همزة (ء)
|
ف
|
الفاء
|
مهموز
|
11
|
7
|
|
|
سَأَلَ
|
ع
|
العين
|
12
|
||||
|
قَرَأَ
|
ل
|
اللام
|
13
|
||||
|
دَحْرَجَ
|
اورا سجنيس
|
صحيح
|
الرباعى
|
1
|
1
|
||
|
طَأطَأ
|
سجنيس
|
ف+ل 1
|
مضاعف
|
2
|
2
|
||
|
ع+ل 2
|
3
|
||||||
19
KAIDAH I’LAL ILMU SHOROF
KAIDAH
KE 1
إذَا تَحَرَّكَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ بَعْدَ
فَتْحَةٍ مُتَّصِلَةٍ فِيْ كَلِمَتَيْهِمَا أُبْدِلَتَا آلِفًا مِثْلُ صَانَ
أَصْلُهُ صَوَنَ وَبَاعَ أَصْلُهُ بَيَعَ.
Apabilah ada Wawu atau Ya’ berharkah, jatuh sesudah harkah
Fathah dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya’ tsb harus diganti dengan Alif
seperti contoh صَانَ asalnya صَوَنَ , dan بَاعَ asalnya بَيَعَ .
Praktek I’lal :
·
صَانَ asalnya صَوَنَ ikut pada wazan فَعَلَ. Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan
sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi صَانَ.
·
بَاعَ asalnyaبَيَعَ ikut pada wazan فَعَلَ. Ya’ diganti Alif karena ia berharkah dan
sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi بَاعَ.
·
غَزَا asalnya غَزَوَ ikut pada wazan فَعَلَ. Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan
sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi غزا.
·
رَمَىْasalnya رَمَيَ ikut pada wazan فَعَلَ. Ya’ diganti Alif karena ia berharkah dan
sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi رَمَيَ.
(*Alif pada lafazh رَمَىْ dinamakan Alif
Layyinah).Kaidah ini berlaku pada Wau atau Ya’ dengan Harkah asli. Apabila
harkah keduanya bukan asli atau baru, maka tidak boleh dirubah. Contoh دَعَوُاالْقَوْمَ ., Apabila setelah wawu atau ya’ itu ada
huruf mati/sukun, maka diklarifikasikan sbb:
·
Perhatian:
1. Jika Wawu atau Ya’ tsb
bukan pada posisi Lam Fi’il, maka tidak boleh di-I’lal, karena dihukumi seperti
Huruf Shahih. Contoh: بَيَانٌ, طَوِيْلٌ, خَوَرْنَقٌ.
2. Jika Wawu dan Ya’ tsb
berada pada posisi Lam Fi’il, maka tetap berlaku Kaidah I’lal ini. Contoh يَخْشَوْنَ asalnya يَخْشَيُوْنَ
. Namun disyaratkan huruf yg mati/sukun setelah Wawu dan Ya’ tsb bukan huruf
Alif dan huruf Ya’ tasydid, maka yang demikian juga tidak boleh di-I’lal.
Contoh: رَمَيَا, عَلَوِيٌّ, غَزَوَا.
KAIDAH
KE 2
Apabila wau atau ya’ berharokat berada pada ‘ain fi’il Bina’
Ajwaf dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang mati/sukun, maka
harakat wawu atau ya’ tsb harus dipindah pada huruf sebelumnya. Contoh: يَقُوْمُ asalnyaيَقْوُمُ dan يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ.
Praktek I’lal:
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ عَيْنًا
مُتَحَرِّكَةً مِنْ أَجْوَفٍ وَكَانَ مَا قَبْلَهُمَا سَاكِنًا صَحِيْحًا نُقِلَتْ
حَرْكَتُهُمَا إلىَ مَا قَبْلَهَا, نَحْوُ يَقُوْمُ أَصْلُهُ يَقْوُمُ, يَبِيْعُ
أَصْلُهُ يَبْيِعُ.
·
يَقُوْمُ asalnya يَقْوُمُ
ikut pada wazan يَفْعُلُ . harkah wawu
dipindah pada huruf sebelumnya, karena wawu-nya berharkah dan sebelumnya ada
huruf shahih yg mati atau disukun, untuk menolak beratnya mengucapkannya, maka
menjadi يَقُوْمُ
·
يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ ikut pada wazan يَفْعِلُ harkah Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya,
karena Ya’-nya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih yg mati/sukun, untuk
menolak beratnya mengucapkannya, maka menjadi يَبِيْعُPerpindahan
Syakal/Harakat/Tasykil/Tanda baca Wau atau Ya’ tersebut dalam Kaidah ini,
tidak berlaku apabila setelah Wawu atau Ya’ terdapat Huruf yang di-tasydid-kan.
Contoh: يَسْوَدُّإِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ
بَعْدَ آلِفٍ زَائِدَةٍ أُبْدِلَتَا هَمْزَةً بِشَرْطِ أَنْ تَكُوْنَا عَيْنًا
فِيْ اسْمِ الْفَاعِلِ وَطَرَفًا فِيْ مَصْدَرٍ, نَحْوُ صَائِنٌ أَصْلُهُ صَاوِنٌ,
سَائِرٌ أَصْلُهُ سَايِرٌ, لِقَاءٌ أَصْلُهُ لِقَايٌ.
Praktek I’lal:
·
Apabila ada wawu atau ya’ jatuh sesudah alif zaidah, maka harus
diganti hamzah, dengan syarat wau atau ya’ tersebut berada pada ‘Ain Fi’il
kalimah bentuk Isim Fail, atau berada pada akhir kalimah bentuk masdar.
Contoh: صَائِنٌ asalnya صَاوِنٌ dan سَائِرٌ asalnya سَايِرٌ dan لِقَاءٌ asalnya لِقَايٌ
KAIDAH
KE 3
Perhatian:
·
صَائِنٌ asalnya صَاوِنٌ ikut
pada wazan فَاعِلٌ . wawu diganti
Hamzah, karena jatuh sesudah Alif Zaidah dan berada pada ‘Ain Fi’il Isim Fa’il,
maka menjadi صَائِنٌ
·
سَائِرٌ asalnya سَايِرٌ ikut pada wazan فَاعِلٌ . Ya’ diganti Hamzah, karena jatuh sesudah
Alif Zaidah dan berada pada ‘Ain Fi’il Isim Fa’il, maka menjadi سَائِرٌ
·
عَطَاءٌ asalnya عَطَاوٌ ikut pada wazan فَعَالٌ wawu diganti Hamzah, karena jatuh sesudah
Alif Zaidah dan berada pada akhir kalimah Isim Masdar, maka menjadi عَطَاءٌ .
·
لِقَاءٌ asalnya لِقَايٌ ikut pada wazan فِعَالٌ Ya’ diganti Hamzah, karena jatuh sesudah
Alif Zaidah dan berada pada akhir kalimah Isim Masdar, maka menjadi لِقَاءٌ . KAIDAH KE 4Apabila
wau dan ya’ berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan
sukun, maka wau diganti ya’. Kemudian ya’ yang pertama di-idgham-kan pada ya’
yang kedua. Contoh lafadz مَيِّتٌ asalnya
adalah مَيْوِتٌ dan مَرْمِيٌّ asalanya adalahمَرْمُوْيٌ
Praktek I’lal:
·
إِذَا اجْتَمَعَتِ
الْوَاوُ وَالْيَاءُ فِيْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ وَسَبَقَتْ اِحْدَاهُمَا
بِالسُّكُوْنِ اُبْدِلَتِ الْوَاوُ يَاءً وَاُدْغِمَتِ الْيَاءُ اْلأُوْلَى فِي
الثَّانِيَّةِ نَحْوُ مَيِّتٌ أَصْلُهُ مَيْوِتٌ وَمَرْمِيٌّ أَصْلُهُ مَرْمُوْيٌ.
·
·
مَيِّتٌمَيِّتٌ asalnya مَيْوِتٌ mengikuti wazan فَيْعِلٌ . wau diganti ya’ karena berkumpul dalam
satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka menjadi مَيْيِتٌ. Kemudian ya’ yang pertama di-idghamkan
pada ya’ yang kedua karena satu jenis, maka menjadi مَيِّتٌ
·
مَرْمِيٌّ asalnya مَرْمُوْيٌmengikuti
wazan مَفْعُوْلٌ . wau diganti ya’
karena berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun,
maka menjadi مَرْمُيْيٌ. Kemudian ya’ yang
pertama di-idghamkan pada ya’ yang kedua karena satu jenis, maka menjadi مَرْمِيٌّإِذَا تَطَرَّفَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ وَكَانَتَا
مَضْمُوْمَةً اُسْكِنَتَا نَحْوُ يَغْزُوْا أَصْلُهُ يَغْزُوُ وَيَرْمِيْ أَصْلُهُ
يَرْمِيُ
Praktek I’lal:
·
Apabila Wau atau Ya’ menempati ujung akhir kalimah, dan
ber-harakah dhammah, maka disukunkan. Contoh:يَغْزُوْا asalnya يَغْزُوُ dan يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ
KAIDAH
KE 5
·
يَغْزُو asalnya يَغْزُوُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Wau di ujung akhir kalimah ber-harakah
dhammah, maka disukunkan menjadi يَغْزُوْ.
·
يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Ya’ di ujung akhir kalimah ber-harkah
dhammah, maka disukunkan menjadi يَرْمِيْ.
·
Perhatian:
غَازٍ
asalnya غَازِوٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Wau diganti Ya’, karena jatuh sesudah
harakah kasrah, maka menjadi غَازِيٌ,
kemudan Ya’ disukunkan karena beratnya harkah dhammah atas Ya’ maka menjadi غَازٍيْ, kemudian Ya’ dibuang untuk menolak
bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin, maka menjadi غَازٍ
سَارٍ
asalnya سَارِيٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Ya’ disukunkan karena beratnya harakah
dhammah atas Ya’ maka menjadi سَارٍيْ,
kemudian Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin,
maka menjadi سَارٍ
اَوَاقٍ
asalnya وَوَاقِيُ mengikuti wazan فَوَاعِلُ wau pada fa’ fi’il diganti Hamzah, karena
kedua wau berkumpul dalam satu kalimah, maka menjadi اَوَاقِيْ.
Kemudian Ya’ dibuang untuk meringankannya, maka menjadi اَوَاقِ. Dan didatangkanlah tanwin sebagai pengganti dari Ya’ yang
dibuang, maka menjadi اَوَاقٍ. اِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ رَابِعَةً فَصَاعِدًا فِي الطَّرْفِ
وَلَمْ يَكُنْ مَا قَبْلَهَا مَضْمُوْمًا أُبْدِلَتِ الْوَاوُ يَاءً نَحْوُ
يُزَكِّيْ أَصْلُهُ يُزَكِّوُ وَ يُعَاطِيْ أَصْلُهُ يُعَاطِوُPraktek
I’lal:
Apabila wau menempati ujung akhir kalimah empat huruf atau
lebih, dan sebelum wau tidak ada huruf yang didhammahkan, maka wau tsb diganti
ya’. Contoh: يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ dan يُعَاطِيْ asalnya يُعَاطِوُ.
KAIDEAH
KE 6
·
يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ mengikuti wazan يُفَعِّلُ wau diganti ya’, karena berada pada akhir
kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi يُزَكِّيْ
·
يُعَاطِيْ asalnya يُعَاطِوُ mengikuti wazan يُفَاعِلُ wau diganti ya’, karena berada pada akhir
kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi يُعَاطِيْ
·
Perhatian:
·
مَعْطًى asalnya مُعْطَوًا ikut wazan مًفْعَلاً . wau diganti ya’, karena berada pada
akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka
menjadi مُعْطَيًاkemudian ya’ diganti alif
karena berharkah jatuh sesudah harkah fathah, maka menjadiمُعْطًىاْ kemudian alif dibuang untuk menolak
bertemunya dua mati yaitu Alif dan Tanwin, maka menjadi مَعْطًى
KAIDAH
KE 7
·
Apabila wau ada diantara harkah fathah dan kasrah nyata, dan
sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka wau tersebut dibuang. Contoh: يَعِدُ asalnya يَوْعِدُ dan يَئِدُ asalnya يَوْئِدُ
Praktek I’lal:
·
اِذَا وَقَعَتِ
الْوَاوُ بَيْنَ الْفَتْحَةِ وَالْكَسْرَةِ الْمُحَقَّقَةِ وَقَبْلَهَا حَرْفُ
الْمُضَارَعَةِ تُحْذَفْ نَحْوُ يَعِدُ أَصْلُهُ يَوْعِدُ و يَئِدُ أَصْلُهُ
يَوْئِدُ
·
·
يَعِدُ asalnya يَوْعِدُ mengikuti wazan يَفَعِلُ . wau dibuang karena ada diantara fathah
dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka menjadi يَعِدُ
·
يَضَعُ asalnya يَوْضِعُ mengikuti wazan يَفَعِلُ . wau dibuang karena ada diantara fathah
dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka menjadi يَضِعُ. Kemudian Dhad-nya difathahkan untuk
meringankan huruf ithbaq juga huruf Halaq yaitu ‘Ain, maka menjadi يَضَعُHuruf Mudhara’ah : أ –
ن – ي – تHuruf Ithbaq : ص – ض – ط – ظ إذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ بَعْدَ كَسْرَة فِيْ اسْمٍ أوْ فِعْلٍ
أُبْدِلَتْ يَاءً نَحْوُ يُزَكِّيْ أَصْلُهُ يُزَكِّوُ وَ غَازٍ أَصْلُهُ غَازِوٌ
Praktek I’lal:
·
Bilmana ada Wau jatuh setelah harkah Kasrah dalam Kalimah Isim
atau Kalimah Fi’il, maka Wau tersebut harus diganti Ya’. Contoh: يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ dan غَازٍ asalnya غَازِوٌ
KAIDAH
KE 8
·
Huruf Halaq : أ – ح – خ – ع – غ – هـ
·
Perhatian:
·
يُزَكِّيْasalnya يُزَكِّوُ ikut wazan يُفَعِّلُ , wau diganti Ya’ karena jatuh sesudah
harkah kasrah, maka menjadi يُزَكِّيْ
·
غَازِasalnya غَازِوٌ praktek
I’lalnya telah disebut pada Kaidah I’lal ke 5KAIDAH KE 9Bilamana
ada Wau atau Ya’ sukun, bertemu dengan husuf sukun lainnya, maka Wau tau Ya’
tersebut dibuang, ini setelah memindahkan harakah keduanya (Wau atau Ya’)
kepada huruf sebelumnya (lihat kaidah I’lal ke 2). Contoh: صُنْ asalnya أُصْوُنْdan سِرْ asalnya اِسْيِرْ
Praktek I’lal:
·
إذَا لَقِيَتِ الْوَاوُ
وَالْيَاءُ السَّاكِنَتَانِ بحَرْفٍ سَاكِنٍ آخَرَ حُذِفَتَا بَعْدَ اَنْ نُقِلَتْ
حَرْكَتُهُمَا اِلَى مَا قَبْلَهُمَا نَحْوُ صُنْ أَصْلُهُ أُصْوُنْ وَ سِرْ
أَصْلُهُ اِسْيِرْ.
·
·
صُنْ
asalnya أُصْوُنْ mengikuti wazan اُفْعُلْ, harkah Wau dipindah ke huruf sebelumnya,
karena Wau berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun
(lihat Kaidah I’lal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi
اُصُوْنْ, maka Wau dibuang untuk menolak bertemunya
dua mati/sukun, maka menjadi اُصُنْ,
kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi صُنْ
·
سِرْ
asalnya اِسْيِرْ mengikuti wazan اِفْعِلْ, harkah Ya’ dipindah ke huruf sebelumnya,
karena Ya’ berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun
(lihat Kaidah I’lal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi
اِسِيْرْ, maka Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya
dua mati/sukun, maka menjadi اِسِرْ,
kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi سِرِْاِذَا اجْتَمَعَ فِيْ كَلِمَةٍ حَرْفَانِ مِنْ جِنْسٍ
وَاحِدٍ أَوْ مُتَقَارِبَانِ فِي الْمَخْرَجِ يُدْغِم اْلأَوَّلُ فِي الثَّانِيْ
بَعْدَ جَعْلِ الْمُتَقَارِبَيْن مِثْلَ الثَّانِيْ لِثَقْلِ الْمُكَرَّرِ نَحْوُ
مَدَّ أصْلُهُ مَدَدَ وَ مُدِّ أَصْلُهُ اُمْدُدْ وَ اتَّصَلَ أَصْلُهُ اِوْتَصَلَ
Praktek I’lal:
·
Bilamana ada dua huruf sejenis atau hampir sama makhrajnya
berkumpul dalam satu kalimah, maka huruf yang pertama harus di-idghamkan pada
huruf yang kedua,–ini setelah menjadikan huruf yang hampir sama makhrajnya
serupa dengan huruf yg kedua (lihat kaidah i’lal ke 18 insyaallah)–, karena
beratnya pengulangan/memilah-milahnya. contoh مَدَّ asalnya مَدَدَ dan مُدِّ asalnya اُمْدُدْ, dan اتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ.
KAIDAH
KE 10
·
مَدَّ asalnya مَدَدَ
ikut pada wazan فَعَلَ, huruf dal yang
pertama disukunkan untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi مَدْدَ, kemudian huruf Dal yang pertama
di-idgamkan pada huruf Dal yang kedua, maka menjadi مَدَّ
·
مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ asalnya اُمْدُدْ mengikuti wazan اُفْعُلْ, harkah Dal yang pertama dipindah pada
huruf sebelumnya untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi اُمُدْدْ, bertemu dua huruf mati/sukun yaitu kedua
Dal, maka Dal yang kedua diberi harkah untuk menolak bertemunya dua mati/sukun,
baik diberi harkah kasrah karena kaidah; “apabilah ada huruf mati mau diberi
harkah, berilah harkah kasrah”. atau diberi harkah fathah karena ia paling ringannya
harkah. atau diberi harkah dhammah, karena mengikuti harkah ‘Ain fi’il pada
fi’il mudhari’nya, maka menjadi اُمُدْدِ/اُمُدْدَ/اُمُدْدُ,
kemudian Dal yang pertama di-idgham-kan pada Dal yg kedua maka menjadi اُمُدِّ/اُمُدَّ/اُمُدُّ, kemudian Hamzah
Washal-nya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ.
KAIDAH
KE 11
·
Bilamana terdapat dua huruf Hamzah berkumpul sejajar dalam satu
kalimah, yang nomor dua sukun, maka huruf hamzah ini harus diganti dengan huruf
yang sesuai dengan harakah Hamzah yang pertama. contoh آمنasalnya أأمن dan أومل asalnya أؤمل.
Praktek I’lal:
·
الْهَمْزَتَانِ اِذَا
الْتَقَتَا فِيْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ ثَانِيَتُهُمَا سَاكِنَةٌ وَجَبَ اِبْدَالُ
الثّانِيَةِ بِحَرْفٍ نَاسَبَ اِلَى حَرْكَةِ اْلأُوْلَىْ نَحْوُ آمَنَ اَصْلُهُ
أَأْمَنَ وَ أُوْمُلْ اَصْلُهُ أُؤْمُلْ وَ اِيْدِمْ اَصْلُهُ إِئْدِمْ.
·
آمَن
asalnya أَأْمَنَ mengikuti wazan أَفْعَلَ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah
dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti alif, karena ia sukun
dan sebelumnya ber-harkah fathah. maka menjadi آمَنَ
·
أُوْمُل asalnya أُؤْمُل mengikuti wazan أُفْعُلْ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah
dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti wau, karena ia sukun
dan sebelumnya ber-harkah dhammah. maka menjadi أُوْمُل
·
اِيْدِم asalnya إئْدِم mengikuti wazan اِفْعِلْ berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah
dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti Ya’, karena ia sukun
dan sebelumnya ber-harkah kasrah. maka menjadi اِيْدِم.
·
خُذْ
asalnya أُأْخُذ mengikuti wazan أُفْعُلْ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah
dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti wau, karena ia sukun
dan sebelumnya ber-harkah dhammah. maka menjadi أُوْخُذ
kemudian wau-nya dibuang untuk meringankan ucapan, maka menjadai أُخُذ selanjutnya hamzah-nya dibuang karena
sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi خُذْWau
pada lafazh أُوْخُذ dibuang untuk
meringankan ucapan, sedangkan pada lafazh أُوْمُل
cukup tanpa membuang wau, karena menjaga dari keserupaan dengan fi’il amar-nya
lafazh مَالَ – يَمُوْلُ – مُلْ .إِنَّ الْوَاوَ وَالْيَاءَ السَّاكِنَتَيْنِ لاَ تُبْدَلاَنِ
آلِفًا إِلاَّ إِذَا كَانَ سُكُوْنُهُمَا غَيْرَ أَصْلِيٍّ بِأَنْ نُقِلَتْ
حَرْكَتُهُمُا اِلَى مَا قَبْلَهُمَا نَحْوُ أَجَابَ أَصْلُهُ أَجْوَبَ وَ أَبَانَ
أَصْلُهُ أَبْيَنَ.Praktek I’lal:
·
Wau atau ya’ yang sukun, keduanya tidak boleh diganti Alif,
kecuali jika sukunnya tidak asli –dengan sebab pergantian harkat keduanya pada
huruf sebelumnya– (lihat kaidah ilal ke 2). Contoh: أَجَابَ asalnya أَجْوَبَ danأَبَانَ asalnya أَبْيَنَ.
KAIDAH KE 12
Perhatian :
·
أَجَابَ asalnya أَجْوَبَ mengikuti wazan أَفْعَلَ harkah wau dipindah pada huruf sebelumnya
karena ia berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih sukun, karena beratnya
mengucapkan, maka menjadi أَجَوْبَ
(lihat kaidah I’lal ke 2). Kemudian wau diganti alif, karena asalnya wau
berharkah dan sekarang ia jatuh sesudah harkah fathah (lihat kaidah I’lal ke
1). Maka menjadi أَجَابَ.
·
أَبَانَ asalnya أَبْيَنَ mengikuti wazan أَفْعَلَ harkah Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya
karena ia berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih sukun, karena beratnya
mengucapkan, maka menjadi أَبَيَْنَ
(lihat kaidah I’lal ke 2). Kemudian Ya’ diganti Alif, karena asalnya Ya’
berharkah dan sekarang ia jatuh sesudah harkah fathah (lihat kaidah I’lal ke
1). Maka menjadi أَبَانَ.إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ طَرْفًا بَعْدَ ضَمٍّ فِيْ اسْمٍ مُتَمَكِّنٍ فِي
اْلأَصْلِ أُبْدِلَتْ يَاءً فَقُلِبَتِ الضَّمَّةُ كَسْرَةً بَعْدَ تَبْدِيْلِ
الْوَاوِ يَاءً نَحْوُ تَعَاطِيًا أَصْلُهُ تَعَاطُوًا وَ تَعَدِّيًا أَصْلُهُ
تَعَدُّوًا.Praktek I’lal:
·
Bilamana ada wau berada di akhir kalimah jatuh sesudah harkah
dhammah didalam asal kalimah Isim yang Mutamakkin (bisa menerima tanwin), maka
wau tsb diganti ya’, kemudian setelah itu harkah dhammah diganti kasrah.
Contoh: تَعَاطِيًا asalnya تَعَاطُوًا dan تَعَدِّيًا asalnya تَعَدُّوًا.
KAIDAH KE
13
·
تَعَاطِيًا asalnya تَعَاطُوًا
mengikuti wazan تَفَاعُلاً wau diganti ya’
karena berada di akhir kalimah Isim Mutamakkin dan sebelumnya ada harkah
dhammah, maka menjadi تَعَاطُيًًا kemudian huruf
Tha’nya dikasrahkan untuk memantaskan Ya’. Maka menjadi تَعَاطِيًا.
·
تَعَدِّيًا asalnya تَعَدُّوًا
mengikuti wazan تَفَاعُلاً wau diganti ya’
karena berada di akhir kalimah Isim Mutamakkin dan sebelumnya ada harkah
dhammah, maka menjadi تَعَدُّيًًا kemudian huruf
Dal’nya dikasrahkan untuk memantaskan Ya’. Maka menjadi تَعَدِّيًا.KAIDAH KE 14Bilamana terdapat
Ya’ sukun dan sebelumnya ada huruf yang didhammahkan maka ya’ tersebut harus
diganti wau. contoh: يُوْسِرُ asalnya يُيْسِرُ danمُوْسِرٌ asalnya مُيْسِرٌ
Praktek I’lal:
·
إِذَا كَانَتِ الْيَاءُ
سَاكِنَةً وَكَانَ مَا قَبْلَهَا مَضْمُوْمًا أُبْدِلَتْ وَاوًا نَحْوُ يُوْسِرُ
أَصْلُهُ يُيْسِرُ وَ مُوْسِرٌ أَصْلُهُ مُيْسِرٌ
يُوْسِرُ
asalnya يُيْسِرُ mengikuti wazan يُفْعِلُ ya’ yang nomor dua diganti wau karena ia
sukun dan sebelumnya ada huruf yang didhammahkan, maka menjadi يُوْسِرُ.
KAIDAH
KE 15
مُوْسِرٌ asalnya
مُيْسِرٌ mengikuti wazan مُفْعِلٌ ya’ diganti wau karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf
yang didhammahkan, maka menjadi مُوْسِرٌ. إِنَّ اسْمَ الْمَفْعُوْلِ إذَا كَانَ مِنْ مُعْتَلِّ
الْعَيْنِ وَجَبَ حَذْفُ وَاوٍ الْمَفْعُوْلِ مِنْهُ عِنْدَ سِيْبَوَيْهِ
نَحْوُ مَصُوْنٌ أَصْلُهُ مَصْوُوْنٌ وَ مَسِيْرٌ أَصْلُهُ مَسْيُوْرٌPraktek
I’lal:
Sesungguhnya Isim Maf’ul bilamana ia terbuat dari Fi’il Mu’tal
‘Ain (Bina’ Ajwaf) maka wajib membuang wau maf’ulnya menurut Imam Syibawaihi
(menurut Imam lain yg dibuang adalah Ain Fi’ilnya). contoh: مَصُوْنٌ asalnya مَصْوُوْنٌ dan مَسِيْرٌ asalnya مَسْيُوْرٌ
مَصُوْنٌ
asalnya مَصْوُوْنٌ mengikuti wazan
مَفْعُوْلٌ harkah wau dipindah pada huruf sebelumnya
karena ia berharkah dan sebelum ada huruf shahih mati untuk menolak berat maka
menjadi مَصُوْوْنٌ (lihat i’lal ke 2),
kemudian bertemu dua huruf mati (dua wau) untuk menolak beratnya mengucapkan
maka wau maf’ulnya dibuang (menurut Imam Sibawaehi) maka menjadi مَصُوْنٌ .
مَسِيْرٌ asalnya
مَسْيُوْرٌ mengikuti wazan مَفْعُوْلٌ
harkah Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelum ada
huruf shahih mati untuk menolak berat maka menjadi مَسُيْوْرٌ
(lihat i’lal ke 2), kemudian bertemu dua huruf mati (ya’ dan wau) untuk menolak
beratnya mengucapkan maka wau maf’ulnya dibuang (menurut Imam Sibawaehi)maka
menjadi مَسِيْرٌ
KAIDAH
KE 16
Bilamana Fa’ Fi’il kalimah wazan اِفْتَعَلَ berupa
huruf Shad, atau Dhad, atau Tha’, atau Zha’ (huruf Ithbaq), maka huruf Ta’ yg
jatuh sesudah huruf Ithbaq tersebut harus diganti Tha’, demi mudahnya
mengucapkannya. Digantinya Ta’ dengan Tha’ karena dekatnya makhraj keduanya.
contoh: اِصْطَلَحَ asalnya اِصْتَلَحَ dan اِضْطَرَبَ asalnya اِضْتَرَبَ
Praktek I’lal:
إِذَا كَانَ الْفَاءُ اِفْتَعَلَ صَادًا أَوْ
ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً قُلِبَتْ تَاؤُهُ طَاءً لِتَعَسُّرِ النَّطْقِ بِهَا
بَعْدَ هَذِهِ الْحُرُوْفِ وَإِنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالطَّاءِ لِقُرْبِهِمَا
مَخْرَجًا نَحْوُ اِصْطَلَحَ أَصْلُهُ اِصْتَلَحَ وَ اِضْطَرَبَ أَصْلُهُ
اِضْتَرَبَ.
اِصْطَلَحَ asalnya
اِصْتَلَحَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Tha’ karena demi mudahnya
mengucapkannya setelah jatuh dibelakang huruf Ithbaq dan karena dekatnya
makhraj keduanya, maka menjadi اِصْطَلَحَ.
اِضْطَرَبَ asalnya
اِضْتَرَبَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Tha’ karena demi mudahnya
mengucapkannya setelah jatuh dibelakang huruf Ithbaq dan karena dekatnya
makhraj keduanya, maka menjadi اِضْطَرَبَ.
اِطَّرَدَ asalnya
اِطْتَرَدَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ
Ta’ diganti Tha’ karena demi mudahnya mengucapkannya setelah jatuh dibelakang
huruf Ithbaq dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِطْطَرَدَ kemudian Tha’ pertama di-idghamkan karena
dua huruf sejenis, maka menjadi اِطَّرَدَ.
اِظَّهَرَ asalnya اِظتَهَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Tha’ karena demi mudahnya
mengucapkannya setelah jatuh dibelakang huruf Ithbaq dan karena dekatnya
makhraj keduanya, maka menjadi اِظطَهَرَ
kemudian Tha’ diganti Zha’ karena sama-sama huruf isti’la’, maka menjadi اِظْظَهَرَ kemudian Zha’ pertama di-idghamkan
karena dua huruf sejenis, maka menjadi اِظَّهَرَ.
KAIDAH
KE 17
Bilamana Fa’ Fi’il wazan berupa huruf Dal, atau Dzal, atau
Zay, maka huruf Ta’ (Ta’ zaidah wazan اِفْتَعَلَ ) yang
jatuh sesudah huruf-huruf tersebut harus diganti Dal, demi mudahnya
mengucapkannya. Digantinya Ta’ dengan Dal’ karena dekatnya makhraj
keduanya. contoh: اِدَّرَأَ asalnya اِدْتَرَأَ dan اِذَّكَرَ asalnya اِذْتَكَرَ dan اِزْدَجَرَasalnya اِزْتَجَرَ.
Praktek I’lal:
إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ دَالاً أوْ ذَالاً
أوْ زَايًا قُلِبَتْ تَاؤُهُ دَالاً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِهَا بَعْدَ هَذِهِ
الْحُرُوْفِ وَإنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالدَّالِ لِقُرْبِهِمَا مَخْرَجًا
نَحْوُ اِدَّرَأَ أَصْلُهُ اِدْتَرَأَ وَ اِذَّكَرَ أَصْلُهُ اِذْتَكَرَ وَ
اِزْدَجَرَ أَصْلُهُ اِزْتَجَرَ.
اِدَّرَأَ asalnya
اِدْتَرَأَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena demi mudahnya
pengucapan huruf Ta’ yang jatuh susudah huruf Dal dan karena dekatnya makhraj
keduanya, maka menjadi اِدْدَرَأَ. kemudian dal yang
pertama di-idghamkan pada dal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi اِدَّرَأَ.
اِذَّكَرَ asalnya
اِذْتَكَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena demi mudahnya
pengucapan huruf Ta’ yang jatuh susudah huruf Dal dan karena dekatnya makhraj
keduanya, maka menjadi اِذْدَكَرَ.kemudian Huruf Dal
diganti Dzal kerena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِذْذَكَرَ kemudian dzal yang pertama
di-idghamkan pada dzal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi اِذَّكَرَ. (juga boleh dibaca Dal dengan
di-i’lal sbb: kemudian Huruf Dzal diganti Dal kerena dekatnya makhraj
keduanya, maka menjadi اِدْدَكَرَ kemudian
dal yang pertama di-idghamkan pada dal yang kedua karena satu jenis, maka
menjadi اِدَّكَرَ.)
اِزْدَجَرَ asalnya
اِزْتَجَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena demi mudahnya
pengucapan huruf Ta’ yang jatuh susudah huruf Zay dan karena dekatnya makhraj
keduanya, maka menjadi اِزْدَجَرَ.KAIDAH KE 18Bilamana
Fa’ Fi’il wazan اِفْتَعَلَ berupa huruf
wau, atau Ya’, atau Tsa’, maka huruf Fa’ Fi’ilnya tersebut harus diganti Ta’
karena sukarnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن)
sukun dengan huruf yang diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrajnya dan
bertentangan sifatnya, karena huruf “layin” (و – ي)
bersifat Jahr sedangkan huruf Ta’ bersifat Hams. Contoh: اِتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ dan اِتَّسَرَ asalnya اِوْتَسَرَ dan اِتَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ. (penting) dan apabila Fa’ Fi’il-nya tsb
berupa huruf Tsa’, boleh mengganti Ta’nya wazan اِفْتَعَلَ dengan
Tsa’, karena keduanya sama-sama bersifat Hams. contoh: اِثَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ.
Praktek I’lal:
إِذَا كَانَ
فَاءُ اِفْتَعَلَ وَاوًا أوْ يَاءً أوْ ثَاءً قُلِبَتْ فَاؤُهُ تَاءً
لِعُسْرِالنُّطْقِ بِحَرْفِ اللَّيْنِ السَّاكِنِِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ
مُقَارَبَةِ الْمَخْرَجِ وَمُنَافَاةِ الْوَصْفِ ِلأَنَّ حَرْفَ اللَّيْنِ
مَجْهُوْرَةٌ وَالتَّاءُ مَهْمُوْسَةٌ نَحْوُ اِتَّصَلَ أَصْلُهُ اِوْتَصَلَ
وَ اِتَّسَرَ أَصْلُهُ اِوْتَسَرَ وَ اِتَّغَرَ أَصْلُهُ اِثْتَغَرَ. (مُهِمَةٌ)
وَإنْ كَانَتْ ثَاءً يَجُوْزُ قُلْبُ تَاءِ اِفْتَعَلَ ثَاءً ِلاتِّحَادِهِمَا فِي
الْمَهْمُوْسِيَّةِ نَحْوُ اِثَّغَرَ أَصْلُهُ اِثْتَغَرَ.
اِتَّصَلَ asalnya
اِوْتَصَلَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Wau diganti Ta’ untuk mudahnya mengucaplan
huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan
sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta’ bersifat Hams, maka menjadi
اِتْتَصَلَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’
kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّصَلَ.
اِتَّسَرَ asalnya
اِوْتَسَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Wau diganti Ta’ untuk mudahnya mengucaplan
huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan
sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta’ bersifat Hams, maka
menjadi اِتْتَسَرَ kemudian Ta’
pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّسَرَ.
اِتَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ mengikuti
wazan اِفْتَعَلَ huruf Tsa’ diganti
Ta’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَغَرَ kemudian
Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka
menjadi اِتَّغَرَ Dan boleh juga
dibaca Tsa’ اِثَّغَرَ dengan Praktek
I’lal sbb:
اِثَّغَرَ asalnya
اِثْتَغَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena sama-sama
bersifat Hams, maka menjadi اِثْثَغَرَ kemudian
Tsa’ pertama di-idghamkan pada Tsa’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka
menjadi اِتَّغَرَ
Penting untuk diketahui:
اِتَّخَذَ asalnya
اِئْتَخَذَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ
huruf Hamzah yang kedua diganti Ya’ karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf
berharkah kasrah, maka menjadi اِيْتَخَذَ kemudian
huruf Ya’ diganti Ta’ (tanpa mengikuti kias*) maka menjadi اِتَّخَذَ.KAIDAH KE 19Bilamana Fa’ Fi’il
wazan تَفَعَّلَ dan تَفَاعَلَ berupa huruf ت، ث، د، ذ، ز، س, ش, ص، ض, ط, ظ، maka boleh Ta’
dari kedua wazan tersebut diganti dengan huruf yang mendekati dalam Makhrajnya,
kemudian huruf yang pertama di-idghamkan pada huruf yang kedua, demikian ini
setelah huruf yang pertama dari kedua huruf yang berdekatan makhrajnya
tersebut, dijadikan serupa dengan huruf yang kedua. berikut memasang Hamzah
Washal agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. contoh: اِتَّرَسِ asalnya تَتَرَّسَ dan اِثَّاقَلَ asalnya تَثَاقَلَ dan اِدَّثَّرَ asalnya تَدَثَّرَ dan ذَّكَّرَ asalnya تَذَكَّرَ dan اِزَّجَّرَ asalnyaتَزَجَّرَ dan اِسَّمَّعَ asalnya تَسَمَّعَ dan اِشَّقَّقَ asalnya تَشَقَّقَ dan اِصَّدَّقَ asalnya تَصَدَّقَ dan اِضَّرَّعَ asalnya تَضَرَّعَ danاِظَّهَّرَ asalnya تَظَهَّرَ dan اِطَّاهَرَ asalnya تَطَاهَرَ .
Praktek I’lal :
إذَا كَانَ فَاءُ تَفَعَّلَ وَتَفَاعَلَ تَاءً
أَوْ ثَاءً أوْ دَالاً أوْ ذَالاَ أَوْ زَايًا أوْ سِيْنًا أَوْ شِيْنًا أَوْ
صَادًا أَوْ ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً يَجُوْزُ قَلْبُ تَائِهِمَا بِمَا
يُقَارِبُهُ فِِي الْمَخْرَجِ ثُمَّ أُدْغِمَتِ اْلاُوْلَى فِي الثَّانِيَّةِ
بَعْدَ جَعْلِ أَوَّلِ الْمُتَقَارِبَيْنِ مِثْلَ الثَّانِيْ لِلْمُجَانَسَةِ مَعَ
اجْتِلاَبِ هَمْزَةِ الْوَصْلِ لِيُمْكِنَ اْلاِبْتِدَاءُ بِالسَّاكِنِ نَحْوُ
اِتَّرَسِ أّصْلُهُ تَتَرَّسَ وَاِثَّاقَلَ أّصْلُهُ تَثَاقَلَ وَاِدَّثَّرَ
أّصْلُهُ تَدَثَّرَ واِذَّكَّرَ أّصْلُهُ تَذَكَّرَ وَاِزَّجَّرَ
أّصْلُهُ تَزَجَّرَ وَاِسَّمَّعَ أّصْلُهُ تَسَمَّعَ وَاِشَّقَّقَ أصله
تَشَقَّقَ وَ اِصَّدَّقَ أّصْلُهُ تَصَدَّقَ وَاِضَّرَّعَ
أّصْلُهُ تَضَرَّعَ وَاِظَّهَّرَ أّصْلُهُ تَظَهَّرَ وَاِطَّاهَرَ
أّصْلُهُ تَطَاهَرَ.
* Pergantian
Ya’ dengan Ta’ tidak mengikuti Qias yakni termasuk dari perihal Syadz.
اِتَّرَسَ asalnya
تَتَرَّسَ mengikuti wazan تَفَعَّلَ
huruf Ta’ yang pertama disukunkan sebagai sebab syarat idgham maka menjadi تْتَرَّسَ maka Ta’ yang pertama di-idghamkan pada
Ta’ yang kedua karena dua huruf sejenis, berikut mendatangkan Hamzah di
permulaannya agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Maka menjadi اِتَّرَسَ
اِثَّاقَلَ
asalnya تَثَاقَلَ mengikuti wazan تَفَاعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena berdekatan
Makhrojnyamaka menjadi ثَثَاقَلَ kemudian huuf Tsa’
yang pertama disukunkan sebagai sebab syarat idgham maka menjadi ثَثَاقَلَ maka Tsa’ yang pertama di-idghamkan
pada Tsa’ yang kedua karena dua huruf sejenis, berikut mendatangkan Hamzah di
permulaannya agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Maka menjadi اِثَّاقَلَI’lal dalam Kaidah ke 19 ini cuma bersifat
Jaiz atau boleh, bukan suatu ketentuan musti. Sebagai pengalaman bagi kita,
karena ini jarang ditemukan. dan yang banyak digunakan adalah berupa bentuk
asalnya.
Penulis
Ust Abdur Rouf “Annur Al Huda”
Komentar
Posting Komentar